21 Juni 2011

Cerita Cinta: Nostalgila

Cleo memandang wajahnya di depan cermin, matanya yang biru, bibirnya merah merona dan rambutnya yang panjang. Wajahnya begitu mempesona. Tak ada kerutan di wajahnya meski ia telah menginjak usia empat puluh lima tahun. Tapi dirinya terlihat lebih muda sepuluh tahun dari usia sebenarnya.

Pandangan matanya menerawang jauh, menembus tembok rumahnya yang megah, bahkan lebih jauh dari pandangannya. Perasaannya kalut memikirkan sang suami yang akhir-akhir ini begitu berbeda; menjauhinya, meski perlahan, tapi pasti. Perbedaan itu jelas terasa.

"Aku harus tahu, kenapa Mas Henry menjauhiku? Pasti ada sesuatu, pasti." ucapnya dalam hati.

"Kalian mau kan membantuku?" pintanya pada kedua sahabatnya. Mereka hanya mengangguk tanda setuju.

Hingga suatu saat.

"Kamu datang ke apartemenku sekarang!" kata Veronica di telpon. Dengan hati tak menentu Cleo segera pergi.

Evelyne dan Veronica sedang menunggunya.

"Katakan saja apa yang terjadi" Cleo tak sabar menunggu, tanpa permisi langsung memberondong kedua temannya dengan pertanyaan.

"Tenang dan duduklah dulu!" kata Evelyne.

"Kami belum tahu, ini benar atau tidak? Tapi lihatlah!" Veronica memperlihatkan sesuatu.

Hati Cleo panas. Bahunya terguncang saat melihat beberapa helai poto yang diperlihatkan kedua temannya kepada Cleo. Apalagi saat pandangannya menembus ke luar, tampak jelas olehnya suaminya sedang bergandengan mesra dengan seorang wanita.

Ia berlari menghadang suaminya.

"Begini cara meeting kamu Mas?! Yeah, aku tahu sekarang, kenapa akhir-akhir ini kamu berubah? Ow... Sepertinya aku tahu wanita ini. Dia temanmu dulu kan?! Lagi reuni ya? Reuni cinta?!" ucapan marah Cleo tanpa henti.

"Tunggu surat cerai dariku!" kata Cleo geram.

***

Cleo tersenyum, menyaksikan rumahnya.

"Inilah surgaku!" ucap Cloe sambil menghela nafas. Ferdian, suaminya kini begitu menyayanginya.

Cleo membuka pintu rumahnya perlahan. Ia menyesal apa yang dilihatnya. Bayangan Henri kembali muncul. Ferdian lebih dari seorang Henry. Ferdian selingkuh di depan matanya, bercumbu dengan wanita lain, bahkan kali ini di dalam rumahnya sendiri.

Dicabut tombak itu oleh Cleo yang menghunus pada patung yang berdiri tegap--seolah-olah menjadi penjaga setia--di dekat pintu. Ditusuknya tombak itu kejantungnya. Tiba-tiba daras tersiap. Rasa sakit menjalar ke seluruh tubuhnya, tetapi rasa sakit itu tidak sebanding dengan rasa sakit yang ia rasakan selama ini.

Cleo bunuh diri. Cleo menjadi gelap mata. Ia mengakhiri hidupnya dengan cara seperti itu. Sebuah cerita cinta pahit dalam hidup yang dialaminya.

1 Juni 2011

Kekuatan Ikhlas untuk Cinta

Kekuatan ikhlas, pada saat-saat ikatan cinta penuh tantangan ini, sangat perlu untuk dihadirkan pada hatiku. Yang harus aku lakukan adalah ketenangan hati untuk tenggelam dalam samudera keikhlasan. Sadar atau tidak, kekuatan itu akan membawakan pada kemenangan dalam menghadapi berbagai tantangan ikatan cinta bersama Nikita. Tak ada jalan keluar yang lebih penting kecuali hatiku dipenuhi keikhlasan.

Cintaku bertepuk tangan telah aku miliki bersama Nikita. Lalu selanjutnya, sampai kapankah kedua tangan saling bertepuk? Kesuburan lahan cinta telah mampu menumbuhkan benih-benih kebaikan untukku dan Nikita. Lalu, sampai kapan ketahanan kesuburan lahan itu? Tak ada yang lain kecuali mengikat diri dalam ikatan pernikahan. Tetapi pertanyaannya, seberapa kemampuanku membingkai rumah tangga bersama Nikita? Memang permasalahan ini bisa dipecahkan. Tetapi masalahnya, untuk sekedar mas kawin saja aku belum punya.

Memang takdir kelemahan raga membuatku telah melewatkan waktu berharga. Sampai akhirnya kebodohan dari berbagai bidang telah hadir pada diriku. Alhasil, aku belum mampu bekerja di banyak bidang. Tetapi, yang berlalu biarlah berlalu. Yang jelas, sekarang aku lebih pintar daripada orang-orang yang gemar mengumbar waktu. Waktu sekarang jangan sampai berlalu begitu saja. Apalagi, waktu sekarang telah ditemani bidadari yang semoga ikhlas menghadapi keadaanku.

Aku terima, sekarang ini tantangannya dirasa besar yaitu menyayangi gadis dengan tanpa modal. Tetapi, aku pun tidak mau melepas gadis itu karena aku sayangi. Banyak juga orang yang terus-menerus mendapat tantangan yang besar melebihi tantanganku. Mereka pun bisa melewati keadaan itu. Bila mereka mampu, tentu ada jejak yang bisa aku lakukan. Tentu, aku pun mampu menghadapi tantangan ini. Akhirnya, membawa gadis itu dengan modal yang layak untuk hidup bersama.

Dengan keikhlasan, aku ingin mencari rezeki halan sebagai syarat untuk membingkai rumah tangga bersama gadis sunda itu. Dengan keikhlasan, tiap doa-doa yang aku panjatkan pada Allah diselimuti rasa kepasrahan yang menyentuh hati. Tiap ucapanku tatkala waktu memberikan kesempatan untuk sekedar curhat bersama gadis manis itu, aku selalu dalam hati penuh syukur. Intinya, berharap tanpa menghilangkan hati keikhlasan hati.

31 Mei 2011

Cinta Terlarang

Mencintai itu... indah. Tapi dicintai lebih indah. Ya iyalah. Mencintai harus menjaga perasaan. Tapi dicintai, perasaan yang dijaga. Suit..Suit..Ahh...

Tapi bagaimana kalau yang mencintai kita ternyata seorang laki-laki yang terlarang untuk kita? Seorang laki-laki yang telah mempunyai keluarga. Pernahkah berpikir apa yang akan jadinya? Yang jelas, aku tidak pernah menginginkan hal ini terjadi dalam hidupku, bahkan dalam mimpi sekalipun. Hiyyy... ngeri rasanya. Aku buang jauh-jauh dari hadapanku cerita cinta terlarang itu!

Tapi apalah mau dikata, jika cinta sudah melanda hati, siapa bisa mencegah? Aku..? Tidak bisa. Jijik aku mendengarnya. Mendengar kata cinta yang seharusnya tidak ia ucapkan. Seseorang itu yang seharusnya tidak mungkin bisa mencintaiku lebih dari batas kewajaran. Ia adalah orang yang sangat aku hormati dalam hidupku. Ia guruku. Tetapi sebaliknya, ia tidak menghormatiku. Ia malah mengajak selingkuh denganku.

Aku ingatkan padanya bahwa ia punya tanggung jawab atas keluarganya. Mereka percaya bahwa ia akan setia dan sayang pada keluarganya. Ia seharusnya tidak mengkhianati dan menghancurkan harapan mereka. Tapi apa yang aku dengar? Sungguh di luar dugaan. Ia malah berkata kalau ia tahu betul apa yang ia lakukan. Aku tak usah mengajarinya, katanya. Lalu ia berkata bahwa ia mau bertanggung jawab asal aku mau jadi pacarnya. Menjijikkan...!

Aku hanya berdo`a pada sang illahi, semoga ia diberi taufik dan hidayah menuju jalan yang lurus, Aamiin.

30 Mei 2011

Kesuburan Lahan Cinta

Ikatan cinta yang terjadi tanpa ada paksaan memang membentuk kesuburan lahan cinta. Ikatan yang terjadi antar dua insan yang berawal dari paksaan halus, awal kejadian hubungan masih dianggap seperti lahan yang kurang subur. Bila berawal dari paksaan secara kasar, bisa tebak sendirilah.

Yang aku maksud arti dari subur lahan atau tidak subur lahan adalah mengenai masalah keikhlasan. Memang terjadi ikatan percintaan. Tetapi, siapa yang tahu tentang keikhlasan hati seseorang dalam menjalani hubungannya? Bisa saja, salah satunya memendam hati yang kurang ikhlas. Tentu, bila tidak ikhlas bisa dikatakan hubungan itu tidak subur. Jadi, dalam mendapatkan hasil yang mendekati ikhlas, tentu setiap usaha-dalam memikat hati seorang-harus dengan tanpa paksaan.

Berusahalah dengan hati keikhlasan maka akan mendapatkan awal ikatan cinta yang ikhlas.

Aduh, dari tadi teori melulu... Kapan menulis kisah diriku bersama gadisku? Ya sudah, sekarang saatnya menulis kisah bersama gadis itu.

Ikatan cinta yang terjadi antara aku dan Nikita lebih terasa keikhlasannya. Tentu, aku ikhlas dan Nikita pun secara bukti rill mendekati ikhlas. Betapa subur ikatan cinta ini. Aku menyadari, dari awal perkenalan, jatuh cinta (baca: Cintaku Datang dari Maya), sampai dalam usaha memikat hati Nikita, hatiku penuh keikhlasan. Sama sekali tidak ada paksaan pada Nikita. Apapun keputusan Nikita, aku pasti terima. Keikhlasan cintaku lebih penting dari keputusan Nikita.

Akhir cerita, karena kekuatan ikhlas, ikatan cinta antara aku dan Nikita pun membentuk kesuburan lahan. Tentu, dengan kesuburan lahan akan mampu menanam benih-benih kebaikan. Benih-benih itu akan tumbuh sehat dan akan membekas kuat dalam hati. Artinya ikatan cinta memberikan manfaat untuk kemajuan, kemuliaan, kesuksesan padaku dan Nikita.

Putus Cinta Berjuta Derita

Jatuh cinta berjuta rasa, tapi putus cinta berjuta derita. Itulah cerita cinta tentang yang aku alami.

Begitu bahagia di saat sang kekasih mengucap kata cinta. Banyak pengharapan yang aku tanam. Berharap akan selalu bersama dalam jalinan kasih yang suci. Tapi harapan itu kini telah terpupus karena sang kekasih yang telah berkhianat pada cintaku. Derita berjuta rasa dalam hatiku akibat khanatnya.

Kurasakan, ternyata rasa sakit dalam tubuhku lebih nikmat rasanya jika aku bandingkan dengan rasa sakit karena dikhianati olehmu.

Dulu, aku begitu percaya padanya. Tapi setelah pengkhianatan itu, hilang sudah kepercayaanku. Aku benci saat ia tak mau menganggapku sebagai kekasih. Apa karena memang aku tidak pantas...? Tidak, aku tahu, setiap orang pantas mendapatkan cinta. Begitu pula diriku, pantas mendapatkan cinta.

"Apa sebenarnya posisiku di hati kamu? Mengapa kamu bohongi aku? Jika sudah tidak sayang, bilang saja!" kataku.

Tapi ia seperti tidak peduli, dengan perasaan tanpa dosa.

Jujur aku muak!

Ia tahu kalau sebenarnya ia salah, tapi tak mau mengakui kesalahannya. Kenapa aku yang tersudutkan dengan keadaan ini? Tapi sudahlah, tak pantas aku menangisinya. Ia mungkin bukan yang terbaik untukku.

Aku yakin, masih ada seseorang yang sangat tulus mencintai dan menyayangiku. Ya, aku percaya itu...

29 Mei 2011

Cintaku Bertepuk Tangan

Cinta bertepuk sebelah tangan memang banyak orang yang membicarakannya dan mengalaminya. Awalnya, aku pun mengira akan mengalami suatu yang pernah orang-orang rasakan yaitu cinta bertepuk sebelah tangan pada sesorang yang dicintai. Sebut saja Nikita, seorang yang akan memberikan ketentuan nasib pada cintaku. Cintaku datang dari maya (Facebook) pada seorang gadis itu merupakan tantangan buatku. Datang dari dunia maya membuatku khawatir cintaku pun dianggap maya.

Tetapi, keikhlasanku lebih penting daripada cinta yang diterima atau yang ditolak. Akhirnya, keikhlasan membuahkan hasil. Cintaku bertepuk tangan alias aku diterima menjadi seorang yang bisa dikatakan kekasih. Walau aku geli sendiri menyebut kekasih karena memang belum menikah. Tetapi, yang jelas, aku sama Nikita punya ikatan percintaan sebagai persiapan pernikahan nanti.

Betapa nikmat dan hati sejuk dalam membicarakan pernikahan, membicarakan rumah tangga dan segala masa depan lain dengan seorang gadis yang sudah menepuk tangan cintaku. Apa jadinya bila aku membicarakan pernikahan pada seorang gadis yang tidak menepuk tangan cintaku? Kemungkinan, kepalaku akan kejedot tembok karena tangan gadis hanya menepuk kepalaku keras-keras, hahaha...

Akan tetapi, aku tidak akan membicarakan tentang pernikahan dulu, tentang rumah tangga dulu. Aku menyadari, aku baru saja bernafas dari perjuangan yang melelahkan (perang kali ye...). Aku perlu menghirup banyak oksigen untuk memulihkan kondisi jiwa-ragaku yang kelelahan sehabis perjuangan. Lagi pula, gadis yang bernama Nikita pun mungkin mengalami nasib yang sama denganku. Sama-sama lagi butuh oksigen, hihi... Lebih baik, aku menikmati kesuburan lahan hubungan ini dengan menanam benih kebaikan.

Kisah cerita cinta ini aku rangkai sebagai rasa bahagia atas cintaku yang telah bertepuk dengan kedua tangan. Tanganku telah disambut dengan tangan Nikita. Semoga penyatuan tangan tetap memberikan sentuhan energi positif yang akan mengantarkan pada kehidupan yang lebih baik. Tentunya, kehidupanku bersama gadis geulis itu sangat lebih baik dan memang dianjurkan bila terjadi ikatan pernikahan. Semoga, hubungan ini bertepuk juga dengan tangan Allah; mendapat ridho Allah. Amin

26 Mei 2011

Cintaku Datang dari Maya

Jatuh Cinta memang datang dari mana saja, kapan saja, dan pada siapa saja. Tetapi, walau begitu, berharap cintaku tidak terikat pada sembarang gadis. Gadis yang aku cintai berhak mendapat pengukuran berdasarkan aturan yang ada. Walau terlihat cintaku bersyarat, tetapi bagiku tidak. Cinta memang tidak bersyarat, tetapi memilih kekasih adalah dengan syarat-syaratnya.

Lama aku tidak memiliki kekasih. Tetapi, aku tidak perlu menyangkal bahwa diriku pun butuh pendamping hidup. Bisa dikatakan, aku perlu istri untuk membentuk istana rumah tangga yang penuh dengan mutiara-mutiara kebahagiaan. Tetapi, aku pun tidak lupa, bahwa itu perlu proses. Sering dikatakan orang bahwa kita harus dalam jalinan ikatan yang belum resmi dahulu. Lebih jelasnya adalah pacaran. Tetapi, aku tidak menyukai kata pacaran.

Memang ada pula alternatif lain untuk menghindar dari sebutan pacaran. Istilah menurut agamaku adalah ta’arufan. Tetapi, harus memenuhi singkatnya perkenalan. Sepertinya begitu. Karena bila kita menjalani ta’aruf, sudah ada bentuk permohonan ijin pada orang tua si calon. Bila gadis dari jauh yang baru aku kenal, lalu apakah aku akan langsung mendatangi kedua orang tuanya? Itu bukan mauku. Aku pun memikirkan kembali.

Sampai akhirnya, aku menemukan gadis yang aku cintai... Tetapi aku lebih suka menyebut sayang pada dirinya. Aku khawatir memberikan efek yang negatif. Mengingat, kata cinta sudah diartikan yang tak semestinya. Entahlah. Yang jelas, sayang dan cinta buatku adalah sama.

Tentang gadis itu, membuatku merenung pada zaman serba canggih ini. Zaman serba cepat dalam informasi. Yang membuat jarak begitu terasa dekat walau raga yang terpisah jauh. Jarak jauh sudah tidak menjadi alasan lagi untuk tidak berjumpa, tidak bertukar kabar, dan lain-lain. Sekarang, jarak jauh sudah menjadi sesuatu yang dekat secara visual, tulisan, dan suara hanya sekali klik.

Aku menemukan gadis itu dari jarak yang begitu jauh hanya sekali klik lewat jejaring sosial, Facebook. Gadis itu yang mengirimkan aroma bunga dari jauh sampai aku mencium bau wangi itu dan meresap sampai ke hati. Hatiku pun terpaut padanya. Aku menyayanginya.

Awal perkenalan dengan dia memang hanya mengharapkan persahabatan. Sama seperti kenalanku yang lain, yang sudah menjadi sahabat dari dunia maya. Waktu memang perubahan dan perubahan tidak harus sesui dengan awal kejadian. Tentang gadis itu, aku banyak menemukan perubahan yang tidak terduga sebelumnya. Bisa dikatakan bahwa sifat gadis itu sesuai dengan keinginanku. Gadis itu, aku jadikan pilihan tepat untuk pendamping hidupku.

Seperti kisah cinta bertepuk sebelah tangan, tentu, aku pun berpikir bahwa kejadian cinta seperti itu kemungkinan akan aku alami. Tetapi, aku tidaklah berharap untuk pacaran, tidak pula untuk ta’arufan. Tetapi, aku seorang manusia yang sudah punya rasa sayang padanya. Mau tak mau, aku pun ada rasa berharap menjadi kekasih gadis itu.

Tetapi, cintaku telah berbunyi. Itu artinya, cintaku bertepuk tangan. Sampai akhirnya, aku tetap tidak mau pacaran. Memang egois. Aku hanya ingin ta’arufan walau belum meminta ijin pada orang tua gadis itu. Akan tetapi, antara pacaran dan ta’arufan menurutku sama saja yaitu tidak mau kekasihnya direbut orang lain! Hehehe...

Sampai gadis itu bertanya, “Memang kenapa kalau pacaran?”
Aku jawab, “Kalau pacaran berarti ada kegiatan pacaran dong. Tahu kan seperti apa kegiatannya?”
Aku hanya tersenyum.



Cerita Cinta dari:
Lubab El-Zaman pemilik blog Mutiara Pembelajar.